Kamis, 30 Januari 2014

Kalau Aktivis Dakwah Jatuh Cinta, Gimana??



“So, apa yang kau lakukan jika kau jatuh cinta pada seorang wanita?”
Pertanyaan sederhana ini dilontarkan temanku lewat Facebook setelah ia membaca tulisanku di notes yang berjudul “Ketika Hati Pernah Terbagi”. Sesaat, setengah terburu saya ingin menjawab, “Tenang saja, saya ini tidak mudah jatuh cinta kok.” Tapi… ah, saya bukan orang suci. Bisa saja kujawab seperti itu lantaran saat ini saya memang tidak sedang jatuh cinta, tapi bagaimana besok, atau lusa? Alhasil, ku urung memberi jawaban.

Memang, sekilas pertanyaan tersebut sederhana, namun lebih sulit mencari jawabannya ketimbang ditanya, ”Bagaimana sikapmu jika orang lain jatuh cinta kepadamu?” Pertanyaan ini jelas lebih sulit karena memiliki janji dan pembuktian akan sebuah kepribadian diri kita. Salah-salah memberi jawaban, harga diri taruhannya.
Maka dari itu, sejak saya memosting tulisan Ketika Hati Pernah Terbagi pada Februari lalu, pertarungan hati kerap terjadi, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Apa yang harus saya lakukan jika saya jatuh cinta?

+ Pe De Ka Te, tembak, trus jadian, deh!
- Hm, itu mah tradisi jahiliyah. Gak ikhwan banget…
+ Pe De Ka Te, trus jalani hubungan tanpa status. Gak pacaran lho!
- Ah, sama aja. Itu kan zina hati. Dosa-dosa juga! Kurang gentle…
+ Langsung ajak nikah aja!
- Waduh, belum siap materi nih! Ini belum… itu belum… (berbagai alasan bermunculan).
+ Ikut Take Me Out! Atau program terbaru, Cari-Cari Mantu!
- Jawaban macam apa ini?
+ Jadi jutek!
- Sumpah, gak ada untungnya… Merusak ukhuwah, penimbul fitnah, penambah amarah.
+ Minta maaf!
- Emang salah apa gue?
+ Ah, ribet amat. Yaudah, diam aja dah!

Diam? Hm, sesaat saya terdiam menekuri jawaban ini. Apakah diam adalah jawaban terbaik untuk seseorang yang sedang jatuh cinta? Apakah diam menjadi solusi terjitu untuk menghindari kemaksiatan? Apakah diam yang harus saya lakukan?

Sejenak saya teringat bahwa sejatinya kehidupan ini adalah dinamis. Itu sebabnya ada perubahan. Lihat saja diri kita yang berkembang dari bayi menjadi dewasa. Kuku dan rambut selalu tumbuh. Bahkan, sel darah pun senantiasa berganti setiap waktunya. Lingkungan di sekitar juga selalu berubah. Mungkin yang tadinya tanah lapang, kini telah menjadi gedung tinggi menjulang. Intinya, semua berubah. Tak ada yang diam. Lantas kenapa ketika jatuh cinta kita harus diam? Tentu harus action, dong!
Nah, pertanyaannya, action seperti apakah yang dapat menanggulangi hati tanpa ada kemaksiatan yang menyertai?

Baru-baru ini, saat membahas motivasi di pelajaran Psikologi, ada satu teori yang cukup menarik, namanya teori Gerungan. Saya kira teori ini dapat dikaitkan dengan pembahasan cinta yang sedang kita bicarakan. Teori ini berbicara pada tiga hal: pengetahuan, kesadaran, dan sikap.

Seperti jawaban klasik yang sudah-sudah, dalam segala hal kita memang harus punya (ilmu) pengetahuan, termasuk ilmu tentang cinta (tapi yang syar’i, loh). Maka dari itu jangan pernah kita puas dalam mencari ilmu. Ya, ibarat penyakit tubuh, bagaimana kita mau mengobatinya kalau kita tidak punya ilmunya? Nah, hati juga begitu. Kita harus tahu hakikat cinta itu apa dan bagaimana karakteristiknya. Sehingga dengan begitu diharapkan mudah menanggulangi hati jika ternyata sudah tercuri oleh bidadari. Kenapa begitu? Karena dengan ilmu, kita akan dihadapkan pada kenyataan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.

Selanjutnya, ketika (ilmu) pengetahuan telah didapatkan, maka ia akan mengantarkan kita pada sebuah kesadaran. Hati kita diketuk untuk sadar bahwa jatuh cinta itu tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Jatuh cinta itu adalah pilihan, dan setiap pilihan mengandung konsekuensi dan tanggung jawab. Cinta bukan hanya masalah suka sama suka, tapi juga perlu adanya kepemahaman dan kesadaran untuk melengkapi faktor-faktor lain demi membentuk ikatan cinta yang kokoh, seperti kedewasaan, kemapanan,  kesabaran, dan lain sebagainya. Kita kudu paham bahwa cinta tanpa tanggung jawab adalah kehancuran. Ibarat habis manis sepah dibuang. Na’udzubillah.

Namun kesadaran tanpa aktualisasi sama saja dengan omong kosong. Tanggung jawab perlu direalisasikan melalui sikap. Jika jatuh cinta, ya tanggung jawab. Dengan apa? Jika sudah mampu ya dengan menikah, namun jika belum ya banyak-banyaklah berpuasa dan menjaga hati. Soal menjaga hati, Opick memberikan lima perkara: baca Qur’an dan maknanya, mendirikan shalat malam, berkumpul dengan orang yang shalih, perbanyak berpuasa, dan memperbanyak dzikir malam.

Ya, sekiranya itulah jawaban yang saya miliki manakala pertanyaan serupa hadir kembali nantinya. Cinta itu harus diikuti dengan tanggung jawab, yang lahir atas sebuah kepemahaman dan diaktualisasikan melalui capaian menggapai surga-Nya.  Tanggung jawab pada diri sendiri, pada orang yang kita cintai, pada keluarga, pada lingkungan, juga yang terpenting adalah kepada Allah SWT.

Nah, pertanyaan kemudian adalah bagaimana jika setelah melakukan itu semua kita masih saja jatuh cinta pada lawan jenis? Sekali lagi jawaban klasik hadir: Itu fitrah. Namun fitrah serupa dua mata pisau, dapat menyelamatkan, tapi juga dapat membinasakan. Maka dari itu perbanyaklah istighfar dan bersabar.
Sebetulnya, jatuh cinta boleh saja. Tapi jangan sampai jatuh cinta di saat yang tidak tepat, sehingga dapat membawa kita pada kefuturan, jauh dari Allah SWT. Maka dari itu, ketika jatuh cinta, ubahlah energi itu sebagai batu loncatan positif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga apa yang kita lakukan akan menambah nilai ruhiyah atau ibadah kita. Yakinlah, bila jodoh tak akan ke mana.

Allahu a’lam…

COPAS!! 
google seacrh on


Rabu, 29 Januari 2014

AKU INGIN PULANG



Aku ingin pulang
Bukankah hidup tentang merelakan segalanya
Tapi tidak pada burung nasar

Masih terjejak kekosongan pada titian altar
Segala peluh telah berada pada sumbunya
Letih telah mengautkan bongkahan tak berguna
Segala yang menasbihkan terbuang percuma
Lantas apalagi yang ditunggu
Yah! Aku benar-benar ingin pulang!

Bertahan dipinggir jurang
Sudah ditempatkan pada etalase emas
Dan lagi seperti bersuluh dibawa terik mentari
Sebuah ritual yang acap kali ditasbihkan
Kala  jelaga enggan berpisah
Dan sebaiknya memang aku ingin pulang!

Memagut kematian
Seakan hidup pada dua dimensi yang berbeda
Dimensi yang menyuguhkan segala bentuk kenikmatan dunia
Kebebasan berimajinasi liar
Dimensi yang menyodorkan batasan mengembalakan kehidupan
Tempat bermuram durja kala petir menyambar

Aku ingin pulang
Pada tempat rindang pohon cemara
Pada teduh yang meminjamkan gubuk kala hujan
Pada bianglala yang dijadikan undakan
Dimana tak ada selaksa narasi konyol
Tak ada jurang pemisah

Jemput aku Tuhan, agar aku tahu rasanya kematian
Aku rindu, rindu pada-Mu

FATIMAH

INDONESIA BUTUH UANG, BUKAN BUTUH ORANG-ORANG CERDAS



Ini adalah kali pertama saya mencoba memberanikan diri menulis sesuatu yang tidak biasa saya post-kan sebelumnya disosial media manapun. Yah mencoba mengkritik mengkritik system pemerintahan dari sudut pandang yang berbeda dikota tempat kelahiranku tercinta, dibahagian barat Indonesia kota Parepare Sulawesi Selatan.

Saya mengawali tulisan ini dengan sebuah kalimat ajaib
Bismillahirrahmanirrahim…..
Saat sekarang ini kalau mau memberanikan diri untuk menjadi seorang PNS harus menghidangkan sekantong fulus, oohh bukan tapi sekarung yang jumlahnya sudah pasti sangat mencengangkan dan dapat menguras habis harta benda tak ayal satu hektar sawah jika dijualpun mungkin masih belum cukup menggerakkan jentik sang penguasa untuk diberikan pada predator pengerat.

Bagaimana tidak dibanding swasta, profesi PNS memang bisa menjamin masa tua belum lagi tunjangan-tunjangan lain seperti serivikasi ataupun gaji 13 yang jumlahnya sangat menggiurkan. Tidak lupa dengan pandangan sosial masyarakat.

Jaman ayah saya dulu menjadi PNS hanya dihargai ucapan terima kasih dan gula-gula. Pada saat itu ayah dibantu oleh salah satu dosennya untuk mengirim berkas lamaran, sungguh berbanding terbalik dengan sekarang. Itu adalah kisah kurang lebih 26 tahun, dan sayapun tidak bisa membayangkan 20 tahun kedepan, mimpi menjadi PNS sudah menjadi momok yang menakutkan, sungguh sebuah system yang kacau.

Tahun lalu sebelum penerimaan CPNS dibuka secara resmi, begitu banyak narasumber hadir di acara talk show TV swasta membahas mengenai permainan hitam dibalik system seleksi CPNS. Mereka tak memungkiri adanya kecurangan tersebut tapi juga berusaha meyakinkan para calon untuk tetap optimis karena control ketat akan dilakukan untuk menghindari hal hal tersebut. Tapi kenyataannya ironis itu hanya sekedar omong kosong belaka. 

Tahun ini pemerintah membuka seleksi  CPNS entah berapa harga lagi yang dipatok oleh para penguasa….oohh bukan bukan saya lebih leluasa menyebut mereka sebagai  pemangsa dibanding penguasa. Terlepas dari haram tidaknya hal itu sudah menjadi peraturan terselubung, suka tidak suka, mau tidak mau, enak tidak enak kalau mau jadi PNS memang diharuskan mengikuti peraturan itu. Yahh mungkin hal ini tidak lagi dianggap sogokan tapi sudah menjadi aturan, aturan lisan yang yang menjadi pukulan telak.

Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah kalimat
“ Hidup di Indonesia tanpa uang sama halnya hewan tak berguna yang lambat laun akan mati kelaparan”

FATIMAH
20 JAN 2014

Selasa, 28 Januari 2014

Yang namanya jatuh cinta itu dimana-mana selalu sama.
Sama-sama menyenangkan...sekalipun itu adalah jatuh cinta keseribu kalinya.....
(Unknown)
Jika kita manusia hidup tanpa wejangan dan nasehat tentulah lebih sulit menghadapi kehidupan ini...
Pentingnya kata-kata mutiara bukan cuman sekedar kata indah belaka tetapi seperti sebuah ilmu mengakali kehidupan juga penyejuk hati.
Pandai sekali mereka menulis wejangan dan kata mutiara,warisan pemikiran dalam wujud kata-kata abadi sepanjang masa dan senantiasa benar,biarpun diciptakan ratusan tahun yang lalu dalam situasi dunia berbeda dengan sekarang....
Makanya tetap sama saja hanya variasinya yang berbeda....

Zara Zettira ZR (Di kutip dari novel SAMSARA )

SEANDAINYA BISA...

Seandainya bisa ku putar ulang waktu,aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu.
Seandainya bisa ku putar ulang waktu,aku tak ingin berdiri disini.
Seandainya bisa ku putar ulang waktu,aku ingin terlahir sebagai seorang yang buta.
Seandainya bisa...saat ini,aku ingin malaikat maut berbisik di telingaku.
Yaahhh!!! Seandainya bisa...

(Fatimah Az Zahra)

KAMU DAN HATIKU.............

Ini duniamu dan inipun telah menjadi duniaku
Ini kisahmu dan telah menjadi kisahku
Aku tahu karena kau pun tahu
Aku mengerti karena kau pun mengerti
Aku bahagia karena kau pun bahagia
Aku menangis karena kau pun menangis
Aku berharap karena kau pun berharap
Aku berusaha karena kaupun berusaha
Aku turut karena aku takut membuatmu kecewa
Aku berjalan selalu ada menjadi bayangmu walau mentari sedang memayungiku
Aku melukis diatas kanvas dengan nama mu
Aku mengukir kisahmu dalam piktograf kebanggaanku
Aku simpan dirimu begitu apik dalam pigura emasku
Aku bangga menyebut namamu walau dalam mimpiku
Kamu kamu kamu kamu kamu selalu
Kamu bukan yang kedua,dan bukan pula yang pertama bagiku
Tapi kamu diatas kata pertama....
demi Allah sanggupkah aku menjagamu dengan nama-Nya
menjadi yang memuliakanku dihadapan-Nya
Aku jaga hatimu karena aku sayang
Aku takut melihat kegelisahan disetiap guratan wajahmu
Tapi.....
AKU TERLUKA KAU DIAM SAJA!!!!!!!

FATIMAH