Aku ingin pulang
Bukankah hidup tentang merelakan segalanya
Tapi tidak pada burung nasar
Masih terjejak kekosongan pada titian altar
Segala peluh telah berada pada sumbunya
Letih telah mengautkan bongkahan tak berguna
Segala yang menasbihkan terbuang percuma
Lantas apalagi yang ditunggu
Yah! Aku benar-benar ingin pulang!
Bertahan dipinggir jurang
Sudah ditempatkan pada etalase emas
Dan lagi seperti bersuluh dibawa terik mentari
Sebuah ritual yang acap kali ditasbihkan
Kala jelaga enggan berpisah
Dan sebaiknya memang aku ingin pulang!
Memagut kematian
Seakan hidup pada dua dimensi yang berbeda
Dimensi yang menyuguhkan segala bentuk kenikmatan dunia
Kebebasan berimajinasi liar
Tempat bermuram durja kala petir menyambar
Aku ingin pulang
Pada tempat rindang pohon cemara
Pada teduh yang meminjamkan gubuk kala hujan
Pada bianglala yang dijadikan undakan
Dimana tak ada selaksa narasi konyol
Tak ada jurang pemisah
Jemput aku Tuhan, agar aku tahu rasanya kematian
Aku rindu, rindu pada-Mu
FATIMAH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar