Rabu, 29 Januari 2014

INDONESIA BUTUH UANG, BUKAN BUTUH ORANG-ORANG CERDAS



Ini adalah kali pertama saya mencoba memberanikan diri menulis sesuatu yang tidak biasa saya post-kan sebelumnya disosial media manapun. Yah mencoba mengkritik mengkritik system pemerintahan dari sudut pandang yang berbeda dikota tempat kelahiranku tercinta, dibahagian barat Indonesia kota Parepare Sulawesi Selatan.

Saya mengawali tulisan ini dengan sebuah kalimat ajaib
Bismillahirrahmanirrahim…..
Saat sekarang ini kalau mau memberanikan diri untuk menjadi seorang PNS harus menghidangkan sekantong fulus, oohh bukan tapi sekarung yang jumlahnya sudah pasti sangat mencengangkan dan dapat menguras habis harta benda tak ayal satu hektar sawah jika dijualpun mungkin masih belum cukup menggerakkan jentik sang penguasa untuk diberikan pada predator pengerat.

Bagaimana tidak dibanding swasta, profesi PNS memang bisa menjamin masa tua belum lagi tunjangan-tunjangan lain seperti serivikasi ataupun gaji 13 yang jumlahnya sangat menggiurkan. Tidak lupa dengan pandangan sosial masyarakat.

Jaman ayah saya dulu menjadi PNS hanya dihargai ucapan terima kasih dan gula-gula. Pada saat itu ayah dibantu oleh salah satu dosennya untuk mengirim berkas lamaran, sungguh berbanding terbalik dengan sekarang. Itu adalah kisah kurang lebih 26 tahun, dan sayapun tidak bisa membayangkan 20 tahun kedepan, mimpi menjadi PNS sudah menjadi momok yang menakutkan, sungguh sebuah system yang kacau.

Tahun lalu sebelum penerimaan CPNS dibuka secara resmi, begitu banyak narasumber hadir di acara talk show TV swasta membahas mengenai permainan hitam dibalik system seleksi CPNS. Mereka tak memungkiri adanya kecurangan tersebut tapi juga berusaha meyakinkan para calon untuk tetap optimis karena control ketat akan dilakukan untuk menghindari hal hal tersebut. Tapi kenyataannya ironis itu hanya sekedar omong kosong belaka. 

Tahun ini pemerintah membuka seleksi  CPNS entah berapa harga lagi yang dipatok oleh para penguasa….oohh bukan bukan saya lebih leluasa menyebut mereka sebagai  pemangsa dibanding penguasa. Terlepas dari haram tidaknya hal itu sudah menjadi peraturan terselubung, suka tidak suka, mau tidak mau, enak tidak enak kalau mau jadi PNS memang diharuskan mengikuti peraturan itu. Yahh mungkin hal ini tidak lagi dianggap sogokan tapi sudah menjadi aturan, aturan lisan yang yang menjadi pukulan telak.

Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah kalimat
“ Hidup di Indonesia tanpa uang sama halnya hewan tak berguna yang lambat laun akan mati kelaparan”

FATIMAH
20 JAN 2014

4 komentar:

  1. TES KOMEN,,, ADA MI TADI KOMEN KU BAGUS MI KATA2 KU SEKARANG KULUPA MI

    BalasHapus
    Balasan
    1. eeehhh adami kk,aiii tulis lg kk...mauka minta saran ini

      Hapus
  2. trit yang bagus, smanget neng, bikin blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makacih makacih....
      mohon saran dan kritikannya yoooo

      Hapus